Bandarlampung (LW): Kodam XXI/Radin Inten memimpin aksi bersih-bersih di tiga pasar tradisional di Kota Bandar Lampung, Rabu (11/2). Sebanyak 388 personel gabungan diterjunkan untuk menyisir tumpukan sampah di Pasar Bambu Kuning, Pasar Gintung, dan Pasar SMEP.
Personel yang terlibat berasal dari unsur TNI, Polri, pemerintah provinsi dan kota, BPBD, Kodim, hingga organisasi kepemudaan. Aksi ini merupakan tindak lanjut instruksi Presiden terkait Gerakan Lingkungan Hidup Bebas Sampah yang disampaikan dalam Rakornas awal Februari.
Inspektur Kodam XXI/Radin Inten, Brigjen TNI Enjang, menegaskan bahwa persoalan sampah bukan sekadar isu kebersihan.
“Ini tentang kesadaran bersama. Sampah bukan hanya berdampak pada estetika kota, tapi juga kesehatan masyarakat dan potensi bencana sosial seperti banjir,” ujar Enjang di sela kegiatan.
Di lokasi, personel gabungan mengumpulkan sampah sisa sayuran, plastik pembungkus, hingga limbah campuran yang menumpuk di sudut-sudut pasar. Sampah kemudian diangkut menggunakan truk menuju tempat pembuangan akhir.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup Provinsi Lampung, Riski Sofyan, mengatakan pihaknya telah menindaklanjuti arahan Presiden melalui Instruksi Gubernur. Aparatur diwajibkan melaksanakan gerakan bersih-bersih minimal sekali dalam sepekan.
“Kementerian Dalam Negeri bahkan merencanakan penetapan Selasa dan Jumat sebagai hari wajib bersih-bersih. Tapi yang lebih penting adalah perubahan perilaku. Pengelolaan sampah tidak bisa hanya mengandalkan pengangkutan ke TPA,” ujarnya.
Menurut Riski, edukasi pemilahan sampah dari rumah tangga menjadi kunci agar beban di hilir berkurang. Pemprov Lampung juga menargetkan pembangunan TPA Regional berbasis teknologi, termasuk konsep Waste to Energy (WtE), yang direncanakan beroperasi pada 2028. Penguatan bank sampah dan budidaya maggot turut didorong sebagai solusi pengurangan volume sampah.
Ketua Pemuda Panca Marga (PPM) Bandarlampung, Aini Putri, SH, menyambut baik langkah Kodam dan pemerintah daerah dalam menggerakkan aksi kolektif tersebut. Ia menilai keterlibatan lintas sektor menjadi bukti bahwa persoalan lingkungan adalah tanggung jawab bersama.
“Gerakan seperti ini harus konsisten, bukan hanya seremonial. PPM siap mendukung upaya edukasi dan partisipasi masyarakat, terutama generasi muda, agar budaya bersih benar-benar menjadi kebiasaan,” tegas Aini.
Ia juga mengingatkan bahwa pasar sebagai pusat aktivitas ekonomi membutuhkan pengelolaan sampah yang lebih terstruktur agar tidak menjadi titik rawan penyakit dan banjir saat musim hujan.
Sementara itu, DPRD Kota Bandar Lampung turut menyoroti kondisi TPA Bakung yang dinilai perlu pembenahan serius. Anggota DPRD Dewi Mayang Suri Djausal menyatakan sistem open dumping sudah seharusnya beralih ke sanitary landfill.
“Pengelolaan harus dibenahi secara sistemik. Sosialisasi kepada masyarakat juga penting karena sampah menjadi salah satu faktor yang memperparah banjir,” ujarnya.
Aksi bersih pasar ini menjadi simbol bahwa perang melawan sampah tak bisa ditunda. Dari pasar, pesan itu digaungkan: kota bersih lahir dari kesadaran bersama. (*)
