Bandar Lampung (Legacy): Seribu lilin menyala di tengah Kota Bandar Lampung. Di balik cahaya yang berpendar di kawasan Tugu Adipura, sekitar 100 masyarakat dari berbagai komunitas dan lintas agama berkumpul dalam satu suasana: berdoa untuk Indonesia.
Aksi kemanusiaan bertajuk “Pray For Indonesia: Satu Doa Satu Hati untuk Indonesia” digelar Sekretariat Bersama (Sekber) Relawan Peduli Bencana, Minggu (27/9) malam.
Bukan sekadar menyalakan lilin, aksi tersebut menjadi simbol solidaritas masyarakat Lampung terhadap warga di berbagai daerah yang tengah menghadapi bencana.
Melalui spanduk utama yang dibentangkan di lokasi, peserta menyuarakan keprihatinan atas rentetan bencana yang terjadi di sejumlah wilayah Indonesia, mulai dari banjir di Sumatra, kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan, gempa bumi di Nusa Tenggara Timur (NTT), hingga erupsi Gunung Anak Krakatau.
Cahaya seribu lilin kemudian mengitari Tugu Adipura. Satu per satu nyala api dinyalakan, membentuk suasana haru sekaligus menjadi simbol harapan agar Indonesia segera bangkit dan masyarakat terdampak bencana diberi kekuatan.
Penyelenggara dari Sekber Relawan Peduli Bencana, Rina Molina, mengatakan kegiatan tersebut digagas sebagai ruang untuk membangun solidaritas sekaligus menggugah kepedulian masyarakat terhadap sesama.
“Kegiatan hari ini bertujuan untuk menggalang solidaritas, doa bersama, dan menumbuhkan kepedulian di tengah banyaknya bencana alam yang melanda Indonesia,” ujar Rina di lokasi kegiatan.
Menariknya, aksi tersebut tidak berdiri atas nama satu kelompok. Beragam elemen masyarakat ikut melebur, mulai dari pegiat alam, Siswa Pencinta Alam (Sispala), Mahasiswa Pencinta Alam (Mapala), komunitas sepeda, hingga komunitas musik.
Keberagaman itu terlihat dalam rangkaian acara yang berlangsung penuh khidmat. Pembacaan puisi, lantunan musik kebangsaan, hingga doa bersama menjadi bagian dari pesan kemanusiaan yang ingin disampaikan.
Puncaknya, penyalaan seribu lilin menjadi momen refleksi bersama. Api kecil dari setiap lilin seolah membawa pesan yang sama: di tengah bencana, kepedulian tidak boleh padam.
Rina menegaskan, dukungan terhadap masyarakat yang terdampak bencana tidak selalu harus diwujudkan dalam bentuk bantuan fisik maupun logistik.
Menurutnya, doa juga menjadi bentuk kepedulian ketika masyarakat ingin ikut mengambil bagian dalam menguatkan mereka yang sedang menghadapi musibah.
“Melihat kondisi Indonesia saat ini, bentuk bantuan itu sangat beragam. Ada bantuan tenaga, materi, dan kami memilih mewujudkannya dalam bentuk doa bersama,” pungkasnya. (Jek)
